Tampilkan postingan dengan label Bid'ah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bid'ah. Tampilkan semua postingan

Jawaban Amaliyah & Ibadah Yang Dituduh Bid'ah, Sesat..

Judul Buku : Jawaban Amaliyah & Ibadah Yang Dituduh Bid'ah, Sesat, Kafir dan Syirik

Penulis    : selTemplate before starting to create product posts.

Sinopsis: :

Buku ini berisi jawaban tentang amaliyah dan Ibadah yang Dituduh Bid'ah, Sesat, Kafir dan Syirik, disajikan dengan nuansa tanya-jawab dan Jawaban-jawaban yang terdapat dalam buku ini merupakan kumpulan dari karya-karya Kyai NU seperti kitab Hujjah Ahlisunnah karya KH Ali Ma'sum, Krapyak Jogjakarta, Kitab al-Hujaj al-Qath'iyah karya KH Muhyiddin Abdusshomad, Rais Syuriyah PCNU Jember, buku Risalah Ahlisunnah wal Jamaah karya Tim Aswaja NU Centre Jatim, kitab-kitab karya Sayid Muhammad bin Alawi al-Maliki, Makkah, karya-karya Syaikh Ismail al-Yamani, Makkah, dan ulama Sunni lainnya dari Timur Tengah lainnya, yang kesemuanya berlandaskan dalil-dalil yang sahih.

DAFTAR ISI

Sambutan Ketua PCNU Kota Surabaya 7
Sambutan Rais Syuriyah MWC NU Kec. Gubeng 9
Pengantar Editor Buletin Jumat 'Biswah' 11
Pengantar Penulis 14
Keabsahan Salat Aswaja
1. Mengusap Wajah Dan Bersalaman Setelah Salat 18
2. Salat Sunah Berjamaah 20
3. Menggerakkan Telunjuk Saat Tasyahhud? 23
4. Berdoa Dengan Mengangkat Kedua Tangan 25
5. Berdoa Dengan Syair Arab 28
6. Kata'Sayidina' dalam Tahiyat 29
7. DalilQunut Salat Subuh 31
8. Meng-qadla' Salat Mayit 33
9. Larangan Salat Ba'diyah Ashar dan Shubuh 35
10. Dzikir Suara Keras 37
11. Mengeraskan Basmalah 38
12. Doa Ruku' dan Sujud 39
13. Puji-Pujian Setelah Adzan 41
14. Kesahihan Salat Tasbih. 43
Problematika Di Bulan Ramadlan 
15. Shalawat di Sela-Sela Tarawih 47
16. Membaca Surat-Surat Pendek Dalam Tarawih 48
17. Qadla' Ramadlan di Bulan Syawal 51
18. Rukyat Internasional 53
19. Tadarus Di Bulan Ramadlan 55
20. Qunut Salat Witir 57
Dunia Tasawwuf
21. Wali Badal 61
22. Tahapan SuIuk Dalam Tasawuf 63
23. Siapa Sultanul Auliya? 66
24. Bertemu Rasulullah Secara Nyata 69
25. NabiKhidir Masih Hidup? 70
Ragam Masalah
26. Yasin Fadlilah 74
27. Memperbarui Akad Nikah (Tajdidun Nikah) 75
28. Salat Malam Nishfu Sya'ban...., 77
29. Istighfar Untuk Kaum Muslimin 83
30. Doa Saat Membaca al-Quran 85
31. Dahi Hitam Tanda Sujud? 87
32. Shalawat Untuk Penutup Majlis 90
33. Menuduh Kafir 91
34. Haramkah Mencukur Jenggot? 93
35. Akad Nikah Di Masjid 97
36. Berdzikir Menggunakan Tasbih 99
37. Benarkah Isbal Haram? 101
38. Doa Hizib dari Ayat al-Quran 103
39. Hewan Qurban Untuk Mayit 105
40. Iuran/ Arisan Qurban 107
41. Puasa Tarwiyah 109
42. Puasa Bulan Rajab Ill
43. Berkalung jimat 115
44. Hari Apa Saya Kawin? 122
45. Menabuh Terbang di Masjid 124
46. Tawassul 126
 
Ritual Haji
47. Salat Arbain di Madinah 133
48. Umrah Berkali-Kali 134
 
Dalil Seputar Kematian
49. Doa Setelah Salat Janazah 137
50. Sedekah Keluarga Kepada Pelayat 141
51. Tahlil 7 Hari dan 40 Hari 145
52. Talqin Mayit 150
53. Subtansi Haul Ulama 154
54. Dalil Membaca Surat Yasin Untuk Orang Mati 157
55. Doa Dengan Bacaan Al Fatihah 161
56. Menjawab Dalil Tidak Sampainya Kiriman Pahala 164
57. Menjawab Dalil Tidak Sampainya Bacaan al-Qur'an II 167
58. Kesaksian Jelang Pemakaman 171
59. Mengantar Janazah Dengan Tahlil 173
60. Mengamalkan Hadis Dlaif 174
61. Baca al-Quran di Kuburan 177
62. Khataman al-Quran di Kuburan 185
63. Takbir Saat Khataman al-Qur'an 188
 
Alam Kubur
64. Ziarah ke Makam Rasulullah Saw 191
65. Ziarah Ke Makam Para Wali (Wisata Religi) 193
66. Doa Dari Rumahatau Ke Kubur? 197
67. Siksa Kubur 200
68. Wanita Ziarah Kubur 202
 
Ibadah Jumat
69. Salat Tahiyyat Masjid Saat Khutbah 205
70. Dalil Salat Sunah Qabliyah Jumat 206
71. Hari Rayadi Hari Jumat 209
72. Yasinan Tiap Malam Jumat 211
73. Memegang Tongkat & Mimbar 214
74. Bilal Jumat 216
75. Wiridan Setelah Jumat 219
 
Ngalap Berkah (Tabaruk)
76. Berkah Orang Shaleh 223
77. Mencium Tangan Kyai 226
78. Ziarah Makam Mencari Berkah 228

Rp 30000
Qty:  Tambah ke Troli
Jumlah barang item(s) di Troli.

Tahlilan Bid'ah Hasanah, berlandaskan...

Nama Kitab : Tahlilan Bid'ah Hasanah, berlandaskan Al Quran dan Sunnah

Penulis    : Muhammad Ma'ruf Khozin

Deskripsi :

Tradisi tahlilan yang sudah mengakar di Indonesia merupakan sebuah tradisi yang dilestarikan oleh kalangan Nahdliyin (masyarakat  Nahdlatul Ulama) dengan isi bacaan-bacaan zikir tertentu. Dalam hal ini NU mengategorikan tahlilan sebagai bid'ah hasanah. Karena tahlilan merupakan salah satu tradisi yang subtansinya diislamisasi oleh ulama-ulama terdahulu dengan tujuan agar Islam bisa diterima di kalangan masyarakat Nusantara tanpa menghapus tradisi yang ada, karena Islam adalah agama yang menghargai tradisi.

Tahlilan dalam masyarakat NU (Nahdlatul Ulama) sering diadakan untuk selamatan 7 (tujuh) hari orang yang meninggal dunia dengan harapan agar pahalanya bisa sampai kepadanya atau dalam sebuah perkumpulan-perkumpulan pada momen-momen tertentu. Namun, dalam hal ini, banyak kalangan yang menganggap bahwa tahlilan adalah bid'ah yang sesat dan keluar dari ajaran Islam yang asli karena dianggap tidak pernah dilaksanakan pada masa Nabi. Pandangan yang seperti itu jelas adalah pandangan yang sempit dalam memahami agama.

Kontroversi seputar tahlilan ini menjadi suatu yang selalu relevan untuk dibicarakan, sebab orang yang menganggap tahlilan sebagai aktivitas musryik dikarenakan menyerupai tradisi agama lain selain Islam. Padahal penolakan akan tahlilan yang telah mentradisi di masyarakat ini sebenarnya masalah klasik dan para ulama terdahulu telah memberi jawaban yang sarat dengan refrensi mulai dari ayat Al-Quran, Hadis hingga dalil fiqh.

Kelompok yang anti tahlilan kerap menuduh tahlil sebagai bid'ah karena sebagai warisan dan tradisi agama pra-Islam di Jawa, yaitu Budha dan Hindu, sehingga praktek tahlil hukumnya haram dilakukan karena menyerupai (tasyabbuh) dengan tradisi agama lain. Tuduhan ini dilakukan sebagaimana ketika mereka mengharamkan perayaan Maulid Nabi SAW. karena dianggap menyerupai perayaan kelahiran dalam agama lain, yaitu perayaan natal (Kristen). (hlm. 14)

Harus dipahami bahwa permasalahan ini termasuk dalam wilayah i'tiqadi. Dengan demikian, harus ditegaskan bahwa tidak ada keyakinan sama sekali di dalam hati para pelaku tahlilan bahwa apa yang mereka lakukan pada hari pertama kematian, hari kedua, ketiga dan seterusnya merupakan sebuah kewajiban, juga tidak ada keyakinan bahwa berdo’a kepada si mayit pada hari pertama, kedua, ketiga dan seterusnya lebih afdal dibandingkan dengan hari-hari yang lain. Tahlilan yang substansinya adalah berdoa untuk si mayit agar mendapatkan pengampunan dari Allah boleh dilakukan kapan saja, atau bahkan boleh tidak dilakukan, meskipun biasanya kegiatan tahlilan ini dilaksanakan pada hari pertama, kedua, ketiga dan seterusnya.

Tasyabbuh boleh dialamatkan kepada para pelaku tahlilan ketika meyakini bahwa tindakannya itu wajib dilaksanakan pada hari-hari dimaksud dan juga meyakini bahwa hari-hari dimaksud lebih afdal dibandingkan hari lainnya. Jadi, penentuan hari dan seterusnya tidak lebih daripada sebuah tradisi yang boleh dilakukan dan juga boleh ditinggalkan, berbeda dengan apa yang diyakini oleh umat Hindu. Tradisi ini sama persis dengan tradisi memperingati hari-hari besar dalam Islam (Nuzulul Qur'an, halal bi halal, maulid Nabi, isra'-mi'raj dan lain sebagainya) yang boleh dilakukan kapan saja, tidak terbatas pada tanggal-tanggal tertentu. Peringatan hari besar yang biasanya diisi taushiah dan zikir hanyalah merupakan tradisi yang boleh dikerjakan dan juga boleh ditinggalkan.

Buku “Tahlilan Bid'ah Hasanah, Berlandaskan al-Qur'an dan Sunnah” yang ditulis Muhammad Ma'ruf Khozin ini adalah bentuk jawaban atas kontroversi tahlilan yang dianggap sesat oleh beberapa golongan di luar kalangan NU. Dalil-dalil yang digunakan dalam buku ini merujuk pada Al-Quran dan Hadis yang keautentikannya bisa dipertanggungjawabkan. Analisis-analisis yang digunakan semakin memperkuat anggapan bahwa tahlilan bukanlah sesuatu yang menyesatkan. Seperti dikatakan oleh KH. Muhyiddin Abdusshomad dalam pengantarnya, “Buku ini semakin melengkapi dan memperkaya khazanah tentang keabsahan tahlilan dalam perspektif agama.” Buku “Tahlilan Bid'ah Hasanah” mengupas tuntas dalil-dalil tahlilan berdasarkan Al-Quran dan Hadis, sebagai jawaban untuk meneguhkan bahwa tahlilan bukanlah bid'ah yang sesat seperti yang sering dituduhkan.
Rp 35000
Qty:  Tambah ke Troli
Jumlah barang item(s) di Troli.

KERUNTUHAN TEORI BID'AH KAUM SALAFI

Nama Kitab : KERUNTUHAN TEORI BID'AH KAUM SALAFI

Penulis    : M. Maruf Khozin

Deskripsi :

Dalil hadis yang sering disampaikan oleh Wahabi tidaklah salah, yang tidak tepat adalah tatkala menjadikan slogan bid‟ah sebagai sebuah hukum dan menjadi alat untuk menggeneralisir setiapbid'ah adalah sesat. Mengapa tidak tepat? Sebab Wahabi menggunakan hadis-hadis tentang bid'ah tidak berdasarkan pada konsensus atau ijma' ulama, melainkan berdasarkan penafsiran sendiri.

Kita meyakini adanya spesialisasi dalam ilmu. Di bidang kesehatan yang ahli sudah jelas adalah dokter, di bidang hukum adalah ahli hukum dan seterusnya. Demikian halnya dalam masalah hadis kita tidak boleh main-main memilih orang yang bukan ahli hadis untuk menafsirkan hadis, kendatipun mereka mengaku-ngaku ahli hadis. 


Ulama Wahabi dan pengikutnya setahu tidak ada yang bergelar al-Hafidz sebagaimana ulama-ulama terdahulu yang telah menyusun ilmu-ilmu hadis. Maka dalam masalah hadis kita harus merujuk kepada para ahlinya, seperti al-Hafidz Ibnu Hajar asy-Syafi'i, al-Hafidz Ibnu Katsir asy-Syafii, Imam Nawawi asy-Syafi'i, al-Hafidz as-Suyuthiasy-Syafi'i dan ulama ahli hadis lainnya yang bergelar al-Hafidz

Rp 30000
Qty:  Tambah ke Troli
Jumlah barang item(s) di Troli.
  1. Most Recent

Follow Us